A huge collection of 3400+ free website templates JAR theme com WP themes and more at the biggest community-driven free web design site
Home / Pendidikan / Pendidikan karakter Lambusu’ berbasis budaya lokal di Takalar

Pendidikan karakter Lambusu’ berbasis budaya lokal di Takalar

IMG-20180324-WA0044

LIPUTANPOLITIK.COM – Takalar –
Pemerintah melalui Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan Republik Indonesia menyelanggarakan Hari Guru Nasional (HGN) tahun 2017 dengan tema “Membangun Pendidikan Karakter Melalui Keteledanan Guru”. Tema ini menjadi tema sentral dalam upaya mewujudkan pendidikan karakter yang dilakukan oleh instansi pendidikan sebagai wujud implementasi nawacita pemerintah yaitu revolusi mental. Pembangunan karakter yang merupakan upaya perwujudan amanat Pancasila dan Pembukaan UUD 1945 dilatarbelakangi oleh realita permasalahan kebangsaan yang berkembang saat ini, seperti; disorientasi dan belum dihayatinya nilai-nilai Pancasila, keterbatasan perangkat kebijakan terpadu dalam mewujudkan nilai-nilai Pancasila, bergesernya nilai etika dalam kehidupan berbangsa dan bernegara, memudarnya kesadaran terhadap nilai-nilai budaya bangsa, ancaman disintegrasi bangsa, dan melemahnya kemandirian bangsa
Bangsa Indonesia saat ini dihadapkan pada krisis karakter yang cukup memprihatikan. Demoralisasi mulai merambah ke dunia pendidikan yang tidak pernah memberikan mainstream untuk berperilaku jujur, karena proses pembelajaran cenderung mengajarkan pendidikan moral dan budi pekerti sebatas teks dan kurang dipersiapkan pada Peserta didik untuk menyikapi dan menghadapi kehidupan yang kontradiktif. Bahkan, fenomena lahirnya praktek korupsi juga berawal dari kegagalan dunia pendidikan dalam menjalankan fungsinya, ditandai dengan gejala tereduksinya moralitas dan nurani sebagian dari kalangan pelajar, akademisi dan praktisi pendidikan.
Banyak bukti menunjukkan masih tingginya angka kebocoran pelaksanaan ujian nasional di sekolah, pengkatrolan nilai kejujuran oleh guru dan kelangan pelajaran, plagiarisme naskah-naskah skripsi dan tesis, menjamurnya budaya nyontek dikalangan pelajar, korupsi waktu mengajar, dan sebagainya. Di sisi lain, praktek pendidikan Indonesia cenderung terfokus pada pengembangan aspek kognitif sedangkan aspek soft skils atau nonakademik sebagai unsur utama pendidikan karakter belum diperhatikan secara optimal bahkan cenderung diabaikan. (Raka, 2006 dalam Astuti, 2010).
Memudarnya nilai-nilai karakter dalam diri manusia di Indonesia ditunjukkan oleh meningkatnya “kesenangan‟ dari sebagian warganya terlibat dalam kegiatan atau aksi-aksi yang berdampak merusak atau menghancurkan diri bangsa kita sendiri (act of self distruction). Ketika bangsa-bangsa lain bekerja keras mengerahkan potensi masyarakatnya untuk meningkatkan daya saing negaranya, sebagian dari warga di Indonesia malah dengan bersemangat memakai energi masyarakat untuk mencabik-cabik dirinya sendiri, dan sebagian besar yang lain terkesan membiarkannya. Fenomena lain yang menunjukkan krisis karakter adalah sikap mental yang memandang bahwa kemajuan bisa diperoleh secara mudah, tanpa kerja keras, bisa dicapai dengan menadahkan tangan.
Integritas merupakan perwujudan identitas diri yang berdedikasi secara konsisten dalam menerapkan prinsipnya, dan bertindak dengan nilai-nilai positif yang diketahui atau dianutnya. Integritas merupakan inti dari perwujudan sikap dan perilaku. Menurut Walgito (1990 :108) mengemukakan bahwa sikap dan perlaku adalah gambaran kepribadian seseorang yang terlahir melalui gerakan fisik dan tanggapan pikiran terhadap suatu keadaan atau suatu objek. Secara lengkap sikap merupakan kecenderungan, pandangan, pendapat atau pendirian seseorang untuk menilai sesuatu objek atau persoalan dan bertindak sesuai dengan penilaiannya dengan menyadari perasaan positif dan negatif dalam menghadapi suatu objek.
Di dalam integritas terkandung makna konsistensi antara tindakan dan nilai. Orang yang mempunyai integritas, hidup sejalan dengan nilai-nilai prinsipnya. Suatu karakter yang tanpa memandang waktu dan tempat senantiasa menunjukkan ketaatan dalam menjalankan kode etik dan moral, memegang prinsip, tulus, jujur dan dapat dipercaya, disiplin, memiliki kekuatan dalam mempertahankan keteguhan, kestabilan dan konsisten dalam sikap dan perilakunya dalam lingkungan kesehariannya. Karena sifatnya yang konsisten maka kemampuan integritas seseorang akan semakin kuat, bila terbangun secara periodik dan terencana melalui dunia pendidikan seiring berjalannya waktu.
Faktor penting dalam memupuk integritas menjadi semakin kuat adalah melalui penghayatan, pengamalan dan pelaksanaannya secara prinsipil dan terencana atas sesuatu yang dialami berhubungan dengan pekerjaan (organisasi dan pembelajaran), interaksi dengan sesama. Oleh karena pentingnya integritas dalam kegiatan pendidikan di sekolah dalam upaya mewujudkan masyarakat intelek yang memegang teguh nilai-nilai luhur dalam kehidupan ini. Konsep pendidikan karakter integritas pada peserta didik diajak dan diarahkan untuk mengamalkan nilai-nilai integritas yang tinggi melalui konsep nilai, cara berpikir, cara menanggapi sesuatu, dan menyikapinya dengan bekal yang cukup.
Pendidikan karakter integritas yang dilakukan dengan cara pembiasaan karakter melalui kegiatan pembelajaran akan memberi kesempatan kepada para peserta didik dan guru tidak hanya bagaimana memahami karakter intergritas secara teoritis tetapi juga bagaimana secara praktek langsung untuk dapat meniru dan mencontoh karakter integritas yang baik dan benar sehingga dapat menerapkannya sesuai dengan kepribadian masing-masing peserta didik dan guru serta stacholder di sekolah.
Pembentukan karakter integritas akan tumbuh, berkembang dan menyatu dalam kehidupan sehari-hari dan menjadi pembiasaan tiap peserta didik ketika pihak sekolah, rumah dan masyarakat bekerjasama dalam menentukan dan membiasakan standar moral atau nilai-nilai yang mengarah pada pembentukan karakter yang baik dan benar.
Karakter integritas individu berkaitan erat dengan karakter integritas publik, bukan hanya karena integritas publik ditentukan oleh karakter integritas individu-individu yang ada di dalamnya, namun harus dilihat juga bahwa karakter integritas seseorang tidak cukup dibentuk dengan pengetahuan semata, namun juga harus ditempa dalam kehidupan sehari-hari dalam sebuah lingkungan sosial yang juga berintegritas. Artinya, karakter integritas dan kesadaran anti korupsi harus dilandasi oleh hasrat untuk mencapai kemaslahatan bersama (public goods).
Pembudayaan karakter integritas bagi peserta didik dilakukan dengan pendekatan nilai-nilai kearifan lokal dan budaya lokal dari berbagai daerah yang dijadikan sebagai bahan pembelajaran. Budaya lokal ini dikenal dengan pappaseng (pesan-pesan) melalui pembelajaran kontekstual.

LDK Pa’karaengang
Inovasi pendidikan karakter bangsa dalam integrasi pembelajaran di sekolah melalui kegiatan Latihan Dasar Kepemimpnan (LDK) Pa’karaengang sebagai wujud aktualisasi nilai-nilai kearifan lokal daerah Bugis Makassar yaitu Lambusu’ (Jujur), yang dirancang dalam kegiatan formal. Kegiatan LDK Pa’karaengang ini meliputi tahapan pra kegiatan (sosialisai), pelaksanaan kegiatan LDK, tahapan implementasi melalui integrasi ke semua mata pelajaran, dan tahapan evaluasi kegiatan pelaksanaan. Inovasi pendidikan karakter bangsa dalam pembelajaran semua mata pelajaran melalui pengintegrasian nilai-nilai kearifan lokal pada kegiatan LDK Pa’karaengang yang diintegrasikan ke dalam semua mata pelajaran. Kegiatan pendahuluan, yakni pada pelaksanaan pembiasaan membaca 15 menit di awal pembelajaran dengan tema cerita lambusu’ (jujur), yang diperoleh siswa sendiri melalui berbagai sumber. Demikian pula pada kegiatan inti pembelajaran pada semua mata pelajaran dirancang penggunaan model-model pembelajaran yang terintegrasi nilai lambusu’ (jujur).
Upaya mensakralkan kegiatan LDK ini, maka semua peserta (peserta didik dan guru) diwajibkan menggunakan pakaian adat sebagai simbol pembudayaan nilai-nilai kearifan lokal. Selain itu semua instrumen yang digunakan dalam kegiatan LDK bernuansa budaya lokal seperti Ritual Angaru (penyambutan tamu terhormat), Tari Paduppa, dan Pemukulan Gandrang (gendang).

Integrasi Karakter Integritas Lintas Mata Palajaran
Menanamkan kebiasaan membaca Al-Qur’an, sholat berjamaah dan kultum pada kegiatan pembelajaran PAI (sholat berjamaah, kultum dan baca Al-quran), pembelajaran PKn (tertib lalu lintas dan sosialisasi pihak kepolisian), pembelajaran seni budaya (tari paduppa dan angaru), pembelajaran penjas (jalan santai) dan pembelajaran praktek (praktek langsung/servis gratis) sehingga akan terbangun karakter integritas melalui aktivitas pekerjaan secara ikhlas, bersungguh, cermat, berkata yang benar dan penuh tanggung jawab yang merupakan implementasi nilai kearifan lokal lambusu’ (jujur) yaitu tutui, baji’ bicara, aggau’ baji dan kuntu injeng.

Pembentukan Karakter Integritas Melalui Kegiatan Ekstrakurikuler
Nilai-nilai kearifan lokal yang ada di sekitar sekolah dapat dimanfaatkan untuk pembelajaran di sekolah. Tak terkecuali dalam pembelajaran untuk menanamkan nilai-nilai nasionalisme. Dengan diintegrasikannya nilai-nilai kearifan lokal dalam pembelajaran di sekolah diharapkan peserta didik akan memiliki pemahaman tentang kerifan lokalnya sendiri, sehingga menimbulkan kecintaan terhadap budayanya sendiri. Proses integrasi nilai-nilai kearifan lokal dalam pembelajaran di sekolah ini bisa dilakukan untuk semua bidang studi. Dalam mengintegrasikan nilai-nilai kearifan lokal dalam pembelajaran di sekolah tentunya guru harus menyesuaikan dengan tingkat perkembangan anak sekolah, disesuaikan dengan materi/mata pelajaran yang disampaikan, metode pembelajaran yang digunakan.
Penanaman karakter integritas melalui kegiatan ekstrakurikuler bidang olahraga, bidang lingkungan, kedisiplinan (bela negara), bidang kreativitas, bidang KIR dan bidang bakat minat yang dilakukan secara komprehensif dan berkelanjutan. Kegiatan pembinaan kesiswaan yang dilaksanakan di sekolah dilakukan dengan upaya membangun dan membentuk karakter peserta didik. Pembentukan karakter ini khususnya karakter integritas pada bidang olahraga sehingga membentuk semangat juang dan kebersamaan serta sportifitas sebagai bagian dari kegiatan pembinaa kesiswaa. Bentuk kegiatan ekstrakurikuler pada bidang-bidang tersebut dilakukan untuk mengukur karakter integritas sehingga akan terbangun aktivitas melakukan pekerjaan yang cermat, berkata yang benar, bersungguh-sungguh dan bertanggung jawab merupakan implementasi nilai kearifan lokal lambusu’ (jujur) yaitu tutui, baji bicara, aggau’ baji dan kuntu injeng.
Implementasi dan kajian dalam pendidikan karakter bangsa pada karakter integritas (Lambusu’) berbasis nilai-nilai kearifan lokal melalui kegiatan Latihan Dasar Kepemimpinan (LDK) Pa’karaengang dilakukan untuk mewujudkan siswa yang memiliki karakter integritas yang meliputi aspek tutui (berbuat cermat), baji bicara (bicara yang benar), anggau’ baji (melakukan perbuatan yang bermanfaat) dan kuntu injeng (bekerja berssungguh-sungguh dan bertanggung jawab). Kegiatan LDK Pa’karaengang merupakan media untuk memotivasi stackholder sekolah dalam menanamkan nilai-nilai integritas berbasis kearifan lokal. Karakter integritas ini terintegrasi ke semua mata pelajaran di sekolah melalui implementasi pada perangkat pembelajaran dan aktivitas pembelajaran di kelas dan pada kegiatan pembinaan kesiswaan (kegiatan ekstrakurikuler) di sekolah.

Abdul Jalil, S.Pd
Guru Honorer SMKS Garudaya Bontonompo

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *