A huge collection of 3400+ free website templates JAR theme com WP themes and more at the biggest community-driven free web design site
Home / Politik / Pilpres, motif Yang tidak berubah

Pilpres, motif Yang tidak berubah

FB_IMG_1533938777054

LIPUTANPOLITIK. COM
SBY tak berubah, termasuk Prabowo. Yang tampak berubah, justru Jokowi. Ia menggandeng KH. Ma’ruf Amin, Ketua Umum MUI Pusat. Berbelok tajam di detik-detik terakhir. Mahfud MD yang sudah siap, harus balik kanan. Ia tak saja memastikan dukungan umat, tapi juga mencawapreskannya.

Fahri Hamzah bilang, walau poros pemerintah sudah banyak mengantongi ulama, tapi tetap saja keberpihakan juga belum berubah. Luka itu terlalu lama dibiarkan menganga. Alih-alih menyembuhkannya, luka itu seperti terus “digarami” oleh mereka dari pihak pemerintah sendiri.

Tapi, KH. Ma’ruf Amin berbeda. Ia di balik fatwa penistaan agama yang dilakukan Ahok. Ia pula yang konsisten di pengadilan atas fatwa tersebut. Masih ingat, saat Ahok membentaknya di pengadilan, yang menimbulkan reaksi keras dari umat. Untung, ia seorang moderat, sehingga tak menyulut api yang lebih besar. Ia bukan pengawal fatwa ulama (GNPF) tapi ulama itu sendiri.

FB_IMG_1533938772303

SBY tetap memperjuangkan anaknya, AHY. Bukan harga mati seperti pidato sebelumnya, hanya drama saja. Walau di detik-detik terakhir tetap mendukung Prabowo, tapi itu karena posisi sudah terjepit. Beralih ke Jokowi, semakin tampak telanjang motif politik SBY, yang sebenarnya.

Hipotesis bahwa partai yang tak mengusung kadernya sebagai capres-cawapres, belum tentu suaranya akan turun, tak saja diyakininya, malah sangat ditakutinya. Makanya, AHY harga mati sebagai cawapres baik di Jokowi atau Prabowo. Pidato tinggallah pidato. Jualan tetap jualan.

Prabowo, juga hanya mementingkan kepentingan politiknya semata. Menggandeng Sandi yang nota bene kader Gerindra, itu semakin kentara. Sandi keluar dari Partai Gerindra, itu drama politik apalagi? Sejak di pilkada Jawa Barat dan DKI Jakarta, itu sudah mulai jelas terbaca. Mitra koalisinya dipaksa untuk mengikuti mau politiknya saja dengan iming-iming yang berakhir tragis.

Juga, mitra koalisinya selalu dipaksa untuk membuat alasan sendiri, dari yang masuk akal sampai yang tak masuk akal di internal masing-masing. Sekali dua kali tak apa-apa, kalau berkali-kali bagaimana bisa? Cuma internal yang berpikir dogmatis saja yang bisa membuatnya rasional.

Kini, dua pasangan sudah beradu. Pilpres tak jadi diundur, atau berhadapan dengan kotak kosong. Pilihan Jokowi bukan berarti, akan berakhir pada kemenangan. Ia berhasil menutup satu lubang, tapi menyisakan lubang yang lain.

Dalam beberapa hal, sebetulnya Mahfud MD adalah paket yang lebih lengkap dibanding KH. Ma’ruf Amin. Faktor usia, latar belakang, dan masalah yang dihadapi bangsa ke depan, menjadi lubang tersendiri.

Begitu juga dengan Prabowo. Walau sudah menggali lubangnya sendiri, tapi pilihannya terhadap Sandi sudah menutup lubang yang lain. Bukan tak mungkin, Sandi adalah jawaban terhadap berbagai masalah bangsa ke depan. Siapa pemenangnya, masih terlalu dini buat dijawab?

Ini baru awal, belum akhir. Dalil-dalil baru disusun sebagai pembenaran atas pilihan masing-masing. Tapi, politik tak ada yang berubah. Hanya mementingkan kepentingan masing-masing. Dalil-dalil dibuat setelah itu dengan berbagai macam alasan. Rasional maupun irrasional..

Serial: Erizal Sastra

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *