A huge collection of 3400+ free website templates JAR theme com WP themes and more at the biggest community-driven free web design site
Home / GARBI INDONESIA / Roman Revolusi; Soal Fahri Hamzah (10)

Roman Revolusi; Soal Fahri Hamzah (10)

Oleh: Agus Cuprit

Liputanpolitik.com,- Nasional. Surat pemecatan Fahri Hamzah yang ditandatangani oleh Presiden PKS dan wasekjend akhirnya menjadi polemik. Surat itu cacat hukum. Tidak bisa dieksekusi untuk melakukan pergantian antar waktu FH di DPR RI, bertentangan dengan UU MD3 DPR dan tatib DPR. Bahwa yang berhak menandatangani surat semestinya ketua dan sekretaris partai atau sebutan lain. Wasekjend bukan sekretaris.
.
Dalam situasi demikian, bagi yang biasa berorganisasi pastinya akan melakukan rotasi atau pergantian sekjend terlebih dahulu, lalu di daftarkan ke Kementerian Hukum dan HAM untuk mendapat pengesahan pengurus yang baru. Baru bisa bertindak hukum. Mudah dan benar.

Tetapi ini tidak, kalau boleh dibilang, mendadak menjadi seperti teledor, katanya doktor-doktor, tak menguasai aturan, terjebak oleh situasi yang mereka ciptakan sendiri? Dan begitulah biasanya yang terjadi pada pengambilan kebijakan yang tergesa-gesa. Menerabas norma dan batas kewajaran. Terlalu banyak tangan gelap yang bermain? Satu kesalahan lalu diproduksi lah kesalahan-kesalahan berikutnya. Terlanjur, basah sekalian.

Padahal sebelumnya dalam perihal komposisi majelis tahkim, Kementerian Hukum dan HAM telah memberi peringatan. Dari 4 menjadi 5 orang, juga siapa yang duduk dalam majelis tahkim demi terciptanya pengadilan yang adil. Ini harusnya sudah menjadi alarm, bahwa ada yang tidak benar dalam prosesnya, dalam mekanismenya. Berhentilah, perbaiki terlebih dahulu, dan bekerja sesuai norma keadilan.

Kira-kira, ini tidak lebih karena dampak dari bocornya informasi kemana-mana kalau FH telah dipecat, publik terlanjur tahu sebelum surat resmi itu ada. Bisa jadi karena itulah tidak ada pilihan lain, memang harus diteken pemecatannya. Entah demi apa, apa karena menjaga nama baik pimpinan partai, apa karena tak mau dianggap kalah, entah? Sebagian awam bisa jadi juga menilai ini bentuk arogansi untuk menyingkirkan FH sesegera mungkin, karena FH menghalangi target-target tertentu yang sedang dirancang, misalnya mendekat pada pemerintah? Kecurigaan itu bisa jadi benar, karena ada utusan istana yang datang ke DPP diwaktu-waktu pemecatan FH itu. (Cuprit 1/3). AJM/RedLP.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *