A huge collection of 3400+ free website templates JAR theme com WP themes and more at the biggest community-driven free web design site
Home / Fahri Hamzah / Roman Revolusi; Soal Fahri Hamzah (12)

Roman Revolusi; Soal Fahri Hamzah (12)

Oleh: Cuprit AGus

Liputanpolitik.com, – Nasional. Sudah jatuh, tertimpa tangga. Sudah kalah, harus bayar 30 Milyar pula. Apes. Tak dinyana. Padahal sejak awal persidangan, PKS membusung dada, yakin bakal menang, merasa keputusannya sudah benar, ini hak partai pada anggotanya. Rona kesombongan merasa paling benar itu nampak dalam prosesnya, para tergugat tak boleh ada yang hadir, hanya Abdi Sumaithi – Abu Ridho, yang pernah sekali hadir saat mediasi, itupun kabarnya dapat teguran dari partainya. PKS hanya diwakili kuasa hukum. Sejak awal tak ada niat berdamai.
.
Dimana-mana dalam wawancara, Presiden PKS dan yang lainnya nampak optimis, bahkan terkesan arogan, menyalah-nyalahkan, Fahri Hamzah memang layak dipecat. Kader-kader di daerah diyakinkan, MPP keliling, bercerita ini dan itu, intinya FH salah. Tetapi anehnya jika merasa benar, mengapa tak satupun berani berhadapan di pengadilan. Tak memberikan kesaksian. Melempar wacana, bertemu tak mau.
.
Berbeda dengan FH, menghadiri sidang, berkali-kali datang, terutama saat mediasi, tekadnya bulat, bukan sekedar berharap ishlah – perdamaian, tapi ingin tahu apa sebenarnya alasan 5 orang tergugat itu memecatnya. Pun, FH hadir sebagai bentuk komitmen bahwa ia tak punya masalah, siap diajak bicara dan mau menyelesaikan masalah, tak sembunyi.
.
Bahkan menurut FH, 2 minggu sebelum putusan, seperti sudah mengetahui akan hasil dari putusan pengadilan, Mahfud Abdurrahman, Bendahara DPP PKS, menyampaikan pesan KMS, meminta FH mengakhiri perseteruan cukup di Pengadilan Negeri saja. Siapa yang kalah, usai sudah, tak boleh banding, dan FH menyetujui hal ini. Ternyata tidak, PKS yang kalah, justru mengajukan banding seketika itu.
.
Bahkan dalam proses kasasi, Zainudin Paru, Pengacara PKS, tetap dengan percaya diri, merasa yakin akan menang, berseloroh dengan menyebut FH yang akan nangis bombay. Tetapi FH tetap menang.
.
Setelah inkracht, digerakkan pula kader menggalang koin-koin itu, gerakan koin untuk FH, dishare di sosial media, keinginan menghinakan FH. Dan lagi-lagi, hari ini koin itu tetap tak berwujud. Jangankan untuk FH, menggalang dana untuk pemilu saja susah. Kesombongan itu memakan tuannya sendiri? (Cuprit 3/3). AJM/RedLP.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *