Home / Fahri Hamzah / Roman Revolusi; Soal Fahri Hamzah (22)

Roman Revolusi; Soal Fahri Hamzah (22)

Oleh: Agus Cuprit

Liputanpolitik.com,- Nasional. Ini tak pernah terjadi di periode-periode sebelumnya, perbedaan sikap di partai disikapi dengan ancaman dan pemecatan ditempat lain, dalam keluarga, di yayasan dan dalam pekerjaan. Terbaru, ada info guru yang tidak hadir dalam agenda flashmob disuruh menulis surat pengunduran diri, lucunya, agenda partai disebut bagian dari aturan yayasan. Kebolak-balik, berpotensi melanggar UU Yayasan.

Beberapa waktu sebelumnya juga, pemecatan dan pemberhentian kader yang berbeda sikap dengan partai terjadi, bahkan hingga pada tingkat klaim dan sengketa aset. Tak hanya itu, ada juga yang diintimidasi untuk tidak hamil bahkan disuruh menceraikan suami, yang paling memilukan, guru SDIT, pendidik islam, yang mengancam anak didiknya, karena kakak si anak kecil ini disangkakan terlibat dalam ormas baru besutan Anis Matta dan Fahri Hamzah.

Rangkaian cerita diatas merupakan bentuk penyimpangan tarbiyah. Tidak ada dalam manhaj, periksa saja, Hasan Al Banna sendiri tak pernah mengajarkan demikian. Lalu hal ini muncul dari mana? karangan-karangan siapa? Mengapa kader seperti diseret dalam konflik dan kebencian hingga se begini akut? Khawatirnya mengarah pada sikap yang menganggap kelompok dan partainya paling benar dalam dakwah, yang lain salah, model-model pemikiran takfiri, yang berbeda dianggap sesat, kafir, dan sejenisnya.

Permusuhan mengakar hingga tulang sumsum. Dan itu bukan omong kosong, tersebar pula suara rekaman yang diduga Amang Syafruddin yang menyebut mahkamah internal (partai) paling benar dan pengadilan disebutnya penuh transaksional.

Jika ketua kaderisasinya secara kualifikasi tidak memenuhi syarat, lalu punya pola pandang demikian, maka tidaklah salah jika penyimpangan-penyimpangan tarbiyah terjadi hingga ke tingkat paling bawah. Kalau atas sudah salah, bawah pun lebih juga. Bila tak ada perubahan, rusaklah seterusnya. Sengkarut yang tak berkesudahan.

Ada wasiat yang saya pegang teguh; “jika ada kader ikhwan lebih ikhwan dari keislamannya, maka ia bukan kader ikhwan”. Ikhwan itu bukan aqidah baru, apalagi penentu kapling surga. Memutus silaturahmi dan menebar kebencian juga jauh dari islam itu sendiri. AJM/RedLP.
Penulis: (Cuprit 13/3).

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *