Home / Fahri Hamzah / Roman Revolusi; Soal Fahri Hamzah (23)

Roman Revolusi; Soal Fahri Hamzah (23)

Liputanpolitik.com,- Nasional. Apakah mengelola kaderisasi partai itu hal sepele, sehingga aturan boleh ditabrak, diabaikan? Atau demi hal-hal tertentu, sehingga ditempatkanlah orangnya, sesuai selera, meski tak memenuhi kualifikasi? Atau, ini operandi, ada tangan-tangan gelap yang menginginkan agar rantai pengkaderan terputus, bahkan lebih parahnya, terjadi pengerusakan yang massif diseluruh daerah? Cara pandang yang menganggap kelompoknya paling benar dan yang lain salah adalah satu tanda penyimpangan tarbiyah itu.

Selama ini, kader percaya dan tahunya bahwa partai ini dikelola secara serius oleh orang-orang yang punya komitmen dan dedikasi besar demi kebaikan dakwah dan pergerakan. Wajah teduh dan suara santun pemimpin menjadi garansinya. Sehingga kader melakukan totalitas amal dan pembelaan. Menelan semua doktrin bahwa pimpinan tahu segala hal, menganggap semua dalih dan dalil yang disampaikan dalam forum pekanan dan perangkat organisasi lainnya adalah benar, pimpinan sudah memikirkan dan lebih tahu tentang kebijakan yang diturunkan ke kader dibawah.

Kepercayaan macam apa yang harus dipertahankan, jika banyak pelanggaran disana-sini? Selain ketua kaderisasi yang tak memenuhi kualifikasi, terdapat juga struktur pengelola kaderisasi yang rangkap jabatan bahkan tak maksimal tetapi terus dipertahankan padahal bertentangan dengan Manhaj Idarah Tarbiyah. Lili Nur Aulia, misalnya, ketua kaderisasi DPW Banten dikabarkan juga merangkap ketua biro di DPP, Aidil Heriana banyak disebut jarang hadir tetapi diangkat sebagai ketua UPPA, ada juga ketua-ketua yang memegang lebih dari 1 UPPA.

Tak hanya itu, bahkan sebagian dari ketua UPPA adalah orang baru dan tak sedikit yang tak pernah bersinggungan dengan bidang kaderisasi. Problem demikian tentu menambah beban dan permasalahan pengelolaan kaderisasi. Bisa dibayangkan imbas pada kualitas dan kuantitas kader selama 4 tahun belakangan ini.

Tidak tepat jika stagnasi partai dianggap diakibatkan Fahri Hamzah , atau bahkan Anis Matta. Bukankah lebih disebabkan pengelolaan yang tak sesuai dengan aturan dan mekanisme? Cara mudah untuk menutupi kelemahan adalah dengan menuduhkan pada yang lain?. AJM/RedLP.

Penulis: (Cuprit 14/3)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *