Home / Fahri Hamzah / Roman Revolusi; Soal Fahri Hamzah (40)

Roman Revolusi; Soal Fahri Hamzah (40)

Oleh: Agus Cuprit

Liputanpolitik.com,- Nasional. Episode pamungkas, terakhir, soal kubu-kubuan dan pengkondisian Anggota Majelis Syuro’ sebelum pemilihan KMS dan presiden. Duo Jawa Timur, orang-orang yang terkenal lurus, berpegang teguh pada manhaj dan fikrah gerakan. Sehingga, bagi keduanya, pembelahan dan intrik diantara para qiyadah selalu mereka sikapi sebagai bagian dinamika organisasi, fikrah gerakan ini tak pernah menganut perbedaan kubu, semuanya satu saudara dalam islam, dengan tujuan yang sama.

Tentu saja mereka dekat dengan semua qiyadah. Bahkan ada yang menyebut mereka sangat dekat dengan LHI dan Salim Seggaf Aljufri. Karenanya, kedekatan itu membuat mereka berdua dianggap berseberangan dengan Anis Matta. Konon, katanya mereka tahu skenario menuju Musyawarah Majelis Syuro’ yang menghasilkan kepemimpinan partai baru itu. Tapi awalnya mereka menganggap itu biasa. Dinamika. Asal tetap dalam koridor manhaj dan fikrah gerakan.

Tetapi terkagetlah mereka ketika cara yang ditempuh tak bersesuaian dengan manhaj dan fikrah gerakan. Melakukan operasi “menghalalkan” cara dan penyingkiran, termasuk dalam kasus @fahrihamzah, itu bukan tradisi organisasi. Mereka berdua lalu mendapatkan pembandingan segamblang-gamblangnya siapa yang sebenarnya tetap dalam “rel dakwah” yang digariskan, karena mereka berinteraksi dengan semua qiyadah. Mereka menilai kali ini bukan sekedar dinamika gerakan, tapi telah banyak terjadi penyimpangan.

Untuk itulah, mereka yang awalnya berharap untuk ditengah-tengah, malah menyatakan sikap bersama AM. Pilihannya bukan tanpa alasan, bagi Ahmad Mudzoffar Jufri (AMJ), setelah mengamati semua qiyadah, hanya AM yang benar-benar memiliki rasa sambung kepedulian, sambung rasa, sambung fikrah, sambung semangat perbaikan, menjaga pedoman organisasi, manhaj, dan keseriusan untuk dakwah, bangsa dan ummat.

Maka ia dan karibnya yang sebagian besar umurnya untuk gerakan, tidak bisa memilih netral. Ia harus bersama siapa yang sungguh-sungguh berjuang. Meski AMJ paham, pilihannya bersama AM pasti mendatangkan fitnah baginya. Ia tak takut, bersama Muhammad Sholeh Drehem, mereka hadapi semuanya demi menjaga lurus fikrah dan manhaj gerakan. (Cuprit 31/3). AJM/RedLP.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *