Home / Fahri Hamzah / Roman Revolusi; Soal Fahri Hamzah (41)

Roman Revolusi; Soal Fahri Hamzah (41)

Liputanpolitik.com,- Nasional. Yang dihembuskan kepada kader tentang latar pembelahan ini adalah bahwa Anis Matta dkk itu tak mau menerima hasil Musyawarah Majelis Syuro’ 1 di Bandung 2015 lalu. Padahal bukan itu intinya. Saya dapat cerita utuh soal MMS 1 itu, mulai dari proses pembukaan dipimpin KMS yang lama sampai pada putusan yang dihasilkan. Sama sekali tak saya temukan unsur yang dilanggar AM atas MMS 1 tersebut. Tanyakan pada Anggota Majelis Syuro’ yang hadir di agenda itu, lalu bandingkan dengan apa yang terjadi hari ini. 100% bukan soal MMS 1. AM sendiri seperti memilih undur diri, asyik dengan dunianya, tetap menjalankan apa yang menjadi tugas-tugasnya, bahkan membatasi perjumpaan publik; baik dengan kader atau relasi-relasi politik di negeri ini.

Bacalah serial terakhir Kepemimpinan Anis Matta yang ditulis Erizal Sastra, ya seperti itu. Tak ada itu soal perbedaan dalam prinsip gerakan. Kubu-kubuan yang ada murni bukan soal kepentingan dakwah, bukan soal pertarungan gagasan, entah harus dengan apa menyebutnya, tetapi memang bukan untuk itu semua. Lihat saja dari proses pengkondisian AMS hingga MMS 1, yang curang bukan AM, justru selain AM itu. Perhatikan juga pasca MMS 1 itu, pemecatan, penggantian, dan penurunan jenjang dialami oleh kader-kader terbaik diseluruh negeri, diseluruh wilayah.

Apakah dengan demikian, setelah AM tak lagi di struktur partai, setelah Fahri Hamzah dipecat, setelah banyak struktur di wilayah diganti, setelah banyak kader diisolasi dan diturunkan jenjang, setelah yang tak mau tandatangan bai’at ulang tak diaku kader, partai itu kondisinya membaik? Yang ada malah mencari “kambing hitam”. Seakan semua yang terjadi justru salah AM dan FH. Padahal kasat mata dapat dilihat ketidakmampuan pimpinan partai itu mengelola dinamika yang terjadi. Padahal doktrin taat dan tsiqoh sudah ditebar.

Lalu masih mau bertahan itu karena apa? Takut tak disebut kawan? Takut dikucilkan? Berharap dapat jabatan dan kekuasaan? Mempertahankan nostalgia? Cuma tahu ini jalan satu-satunya dalam dakwah? Apalagi perempuan, terlalu banyak melibatkan perasaan. Jujurlah, apakah ada alasan karena mempertahankan manhaj dan fikroh gerakan?. (Cuprit 1/4). AJM/RedLP.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *